« mulai berjalan sendiri | Main | makanan sehat untuk anak »
Membina Persahabatan
By Jana | August 15, 2008
Ada harapan bagi anak yang terkucil, walaupun mereka tidak terampil. Steven Asher, ahli psikologi dari University of Illinois, telah merancang serangkaian “pelajaran membina persahabatan” bagi anak yang tidak populer, dan program itu telah memperlihatkan keberhasilan.
Setelah mengidentifikasi anak kelas tiga dan kelas empat yang paling tidak disukai di sekolah mereka, Asher memberi mereka enam sesi tentang bagaimana “membuat bermain menjadi lebih menyenangkan” dengan cara “lebih bersahabat, lucu, dan menyenangkan”.
Untuk menghindari cap buruk, anak diberitahu bahwa mereka bertindak sebagai “konsultan” bagi pelatih, yang sedang berusaha mempelajari apa yang bisa membuat bermain itu lebih menyenangkan.
Anak dilatih bertindak menurut cara yang pada hemat Asher menjadi ciri khas anak yang lebih populer. Misalnya :
- Mereka didorong memikirkan saran alternatif serta kesepakatan (bukannya berkelahi) bila berselisih tentang peraturan.
- Dianjurkan untuk berbicara dan mengajukan pertanyaan pada anak lain sewaktu bermain.
- Mendengarkan dan melihat anak lain untuk mengetahui keadaannya.
- Mengatakan sesuatu yang menyenangkan bila orang lain berhasil baik.
- Tersenyum dan menawarkan pertolongan atau saran dan hiburan.
Anak-anak itu juga mencoba pernik-pernik pergaulan dasar ini sambil melakukan permainan seperti Pick-up Sticks dengan seorang teman sekolah. Dan sesudah itu dilatih tentang seberapa jauh mereka berhasil.
Kursus kecil tentang pergaulan ini berpengaruh menakjubkan. Setahun kemudian, anak-anak yang dilatih itu (semuanya dipilih karena mereka setidak-tidaknya tidak disukai di kelas), sekarang secara mantap berada di tengah-tengah popularitas sekolah. Tak satu pun yang menjadi bintang pergaulan. Tetapi tak satu pun yang dikucilkan.
Hasil serupa ditemukan pula oleh Stephen Nowicki, ahli psikologi dari Emory University. Programnya melatih orang yang disingkirkan dari pergaulan untuk mengasah kemampuan mereka membaca dan merespons secara wajar perasaan anak lain. Anak-anak itu, misalnya, direkam melalui video sementara meeka berpraktek mengungkapkan perasaan bahagia dan sedih. Dan dilatih memperbaiki ungkapan emosi mereka. Kemudian, mereka mencoba ketrampilan mereka yang baru diasah itu dengan seorang anak yang akan dijadikan sahabatnya.
Program semacam itu telah melaporkan angka keberhasilan antara 50% hingga 60% dalam meningkatkan popularitas anak-anak yang ditolak. Program ini nampaknya berhasil paling baik pada anak kelas tiga dan empat daripada pada anak kelas yang lebih tingi. Dan lebih menolong pada anak yang tidak mampu bergaul daripada pada anak yang sangat agresif.
Tetapi, semua itu adalah masalah memperhalus penyetelan. Tanda yang menjanjikan adalah bahwa banyak atau kebanyakan anak yang dijauhi itu mampu dibawa ke dalam lingkaran persahabatan dengan sejumlah latihan emosional dasar.
Siapa yang punya pengalaman seperti di atas? Silakan sharing di sini …
Sumber :
Buku Emotional Intelligence karya Daniel Goleman.
Topics: Anak Cerdas, Artikel, Nilai dan Etika, Tips Pendidikan Anak |
