GRATIS!

Form Pemesan Program Belajar Anak

Usia Anak:
Bahasa:
Kompetensi Anak Yang Ingin Dikembangkan (silakan pilih):



Anggaran Pendidikan Ekstra Anak Per Bulan:
Nama:
Email:
Kode Anti Spam:
Visual CAPTCHA

Recent Posts

Archives

Topics

Statistic

Meta

Text Ads

This Day in History


« Membuat anak senang dengan huruf dan angka | Main | INVITATION : Jerry D. Artega dalam Seminar ‘Joy Of Reading’ »

cara mendidik anak

By Jana | May 13, 2008

cara mendidik anak sejak usia dini
eko prasetyo, ekoprasetyo.ekoprasetyo@yahoo.co.id

Hai Eko,

Anak usia dini artinya sejak baru lahir ya…. Bayi yang sehat adalah bayi yang kelima indranya berfungsi dengan baik. Oya, usia anak Bapak berapa ya?

Misalnya saya ambil contoh anak usia 7 bulan yang normal, dalam arti tidak ada kelainan / cedera pada otaknya. Menurut Glenn Doman dalam bukunya Apa yang Dapat Dilakukan pada Anak Anda yang Cedera Otak, anak usia 7 bulan seharusnya sudah memiliki kemampuan dalam hal :

  • Kompetensi penglihatan : refleks terhadap cahaya, memperhatikan garis bentuk, penilaian detail dalam suatu konfigurasi.
  • Kompetensi pendengaran : refleks kaget, respons vital terhadap bunyi yang mengancam, penilaian bunyi-bunyi yang bermakna.
  • Kompetensi perabaan : refleks Babinski, persepsi terhadap sensasi vital, penilaian terhadap sensasi gnostik.
  • Mobilitas : menggerakkan lengan dan tungkai tanpa menggerakkan tubuh, merayap dengan posisi tengkurap yang berpuncak pada merayap dengan pola silang, merangkak dengan tangan dan lutut yang memuncak pada pola silang.
  • Bahasa : pekik dan tangisan saat lahir, tangisan vital sebagai respons terhadap ancaman kehidupan, menciptakan suara-suara yang bermakna.
  • Kompetensi manual : refleks menggenggam, pelepasan vital, meraih dan menggenggam.

Glenn Doman dan timnya telah menentukan bahwa terdapat lima jenis kemampuan reseptif manusia yang memungkinkan manusia untuk memperoleh informasi dari jenis mana pun. Kelima bidang reseptif itu adalah lima indra yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pencecapan.

Penciuman dan pencecapan sebenarnya adalah karakteristik terpendam pada manusia. Pada orang dewasa yang sehat, kedua bidang reseptif ini adalah untuk mencari kenikmatan. Kehlian ini sangat penting untuk profesi tertentu misalnya pencecap anggur dan penghidu parfum. Orang dewasa mengambil kebanyakan informasi untuk fungsinya dari ketiga bidang reseptif yaitu penglihatan, pendengaran, dan perabaan.

Dengan mengetahui fungsi dari kelima indra dan kemampuan yang semestinya dimiliki oleh anak (dalam contoh di atas usia 7 bulan), maka orang tua perlu untuk menstimulasi kemampuan otak anak.


Brain Grows By Use

Otak akan bertumbuh jika terus-menerus digunakan. Mengajarkan sesuatu kepada anak sejak usia dini, akan memberikan banyak kesempatan bagi otaknya untuk berkembang.

Doronglah dan rangsanglah perkembangan sensor majemuk dan intelektual untuk menjamin lebih banyak terjadinya interkoneksi sel otak pada anak. Pak Eko dapat melakukan hal ini dengan menciptakan sebuah lingkungan yang menggairahkan bagi keluarga Bapak. Yaitu dengan menciptakan suasana rumah yang kaya akan aneka warna dan tekstur, di mana musik merupakan ciri khas yang selalu ada. Orang-orang di rumah berbicara satu sama lain, di mana permainan untuk segala usia tak pernah berhenti, dan terdapat gelak tawa setiap hari.

Pastikan bahwa perkembangan mental anak Bapak adalah “padat otak”, dengan mendorong perkembangan belahan otak kiri dan otak kanannya. Sedapat mungkin buatlah dia tertarik pada banyak subyek dan topik sejak usia dini. Jangan biarkan dia menjadi ‘berat sebelah’. Doronglah dia agar mampu menangani berbagai kegiatan fisik dan mental dan tekankan pentingnya memiliki banyak bakat dalam berbagai bidang. Hal ini sangat penting dalam masa sekarang di mana dunia kerja sangat membutuhkan orang-orang yang kreatif dan serba bisa.

Suasana belajar sambil bermain membantu belajar menjadi menyenangkan. Dalam keadaan “happy”, informasi yang diberikan akan mudah diserap oleh otak anak. Anak menjadi cerdas dan orang tuapun bangga.

Topics: Anak Cerdas, Tanya, Tips Pendidikan Anak |

12 Responses to “cara mendidik anak”

  1. Dika Says:
    May 24th, 2008 at 10:51 am

    Dear Jana,

    Barusan saya lihat di TV ada anak umur dibawah 2 tahun dibunuh oleh ibunya, Hati saya sedih banget dan tak terasa air mata saya menetes. Saya teringat dengan cara saya ngasi tau anak selalu ringan tangan, saya sayang sekali dengan mereka ( Wahyu 6 th dan Bagus 4 th ) tapi saat dia melakukan kesalahan saya langsung naik pitam dan kasar … oh tuhan apa yang telah saya lakukan. Saya peluk dia begitu saya tersadar apa yang telah saya perbuat, dan itu ters berulang - ulang harus giama saya ?

  2. Jana Says:
    May 25th, 2008 at 4:28 am

    Dear Pak Wardika,

    Wahyu dan Bagus? Ah, kapan terakhir saya ketemu dengan mereka ya? Rasanya waktu Wahyu ikut lomba mewarnai English Time dan dapet juara ya? Yayaya…. saya ingat sekarang :-)

    Pada umumnya semua orang tua sayang banget kepada anak-anaknya (kecuali ada beberapa yang tidak sayang karena suatu alasan tertentu!).

    Tentu saja Pak War juga sangat sayang pada Wahyu dan Bagus. Itu bisa saya lihat sendiri. Anak-anak penuh rasa ingin tahu. Apa saja yang dilihatnya pasti akan ditanyakannya. Kalau bisa benda itu diutak-atik, maka dia akan mengotak-atiknya sampai puas, bahkan sampai benda itu rusak berat.

    Orang tua yang mungkin tidak mengerti, bisa menjadi marah karena benda kesayangannya rusak. Dan anak yang merasa telah puas dengan hasil karyanya menjadi kaget dan takut sekali karena dimarahi bapaknya.

    Dalam usia ini, otak anak yang penuh imaginasi dan rasa ingin tahu akan banyak membuat kesalahan dan banyak bertanya. Jawablah setiap pertanyaan anak dengan jujur, sesuai fakta, dan happy. Wajarlah jika mereka membuat kesalahan. Kita saja sebagai orang dewasa yang telah “makan bangku sekolahan” selama bertahun-tahun, masih saja melakukan kesalahan. Jadi jika anak salah, ya gak apa-apa lagi….. :-)

    Seperti kata Ibu Irene, seorang praktisi Glenn Doman, mendidik anak perlu 4S, yaitu SABAR, SABAR, SABAR, dan SABAR.

    Ada juga cara lain yang bisa Pak War lakukan yaitu jangan marahi anak pada waktu dia melakukan kesalahan. Membacakan cerita kepada anak yang ada hubungannya dengan kesalahannya itu adalah jalan yang lebih baik. Bacakan cerita pada saat hati anak dan orang tua lagi happy.

    Nah, jika di kesempatan lain dia melakukan kesalahan yang sama lagi, Pak War bisa mengingatkan dia akan cerita itu, dengan suara yang ramah, hati dipenuhi oleh kasih sayang, tanpa perasaan marah sedikit pun, dan muka penuh senyum. Wah, alangkah indahnya dunia ini … :-)

    Orang tua adalah guru pertama dan terbaik bagi anak. Orang tua adalah teladan bagi anak. Jika Pak War ingin Wahyu dan Bagus tidak ringan tangan, maka perlakukan mereka dengan ramah. Anak adalah PENIRU yang ulung. Mereka akan meniru dengan cepat apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Berhati-hatilah!

    Memang ini perlu kesabaran ekstra dan butuh waktu. Berlatih meditasi cukup membantu lho.

    Ok, Pak War, silakan aja kalau masih ada yang ditanyakan ya …. :-)

    Salam juga buat sang istri tercinta …. :-)

  3. Dika Says:
    May 28th, 2008 at 9:11 am

    Dear Jana,
    Terima kasih sarannya, saya bener2 merenungi apa yang telah saya lakukan selama ini, karena sifat perfectsionist itu yang membuat saya terlalu tegas pada anak saya. Malam itu saya benar2 menangis dan berjanji untuk menjaga sikap saya. Sudah 4 hari ini saya berikan kelembutan pada anak - anak saya dan hasilnya benar seperti yang jana katakan dia semakin dekat dengan saya. Dulu waktu saya sering bentak2 dia memang menjauh dan malahan tidak mau melakukan apa yang saya minta. Sampai saya buat puisi di blog saya http://wardika.org judulnya buah hati.. he he kasi komentar ya… sekali lagi terima kasih banyak…

  4. Jana Says:
    May 29th, 2008 at 2:16 am

    Hai Pak War,

    Puisi yang sangat indah :-) Pak War bagus sekali kata-kata dalam puisi itu. Pada umumnya, orang yang perasaannya halus, baru bisa membuat puisi semacam itu.

    Nah, bagaimana caranya agar rasa halus itu juga tercermin dalam prilaku? Tidak sekedar ada di dalam hati dan puisi saja.

    Bagaimana membuat koneksi antara perasaan di dalam hati dan prilaku, agar sesuai?

    Saya mempunyai pengalaman yang berharga. Saya juga seorang perfeksionis. Apa-apa maunya sempurna. Nah, itu DULU!

    Lalu saya menemukan sebuah buku yang menjelaskan tentang Personality Plus. Di sana diuraikan 160 sifat dan sikap manusia. Saya mengisi kuisioner itu dan melihat kecenderungan saya salah satunya adalah perfeksionis.

    Di buku yang lain yaitu Seni Hidup Bahagia yang ditulis oleh Dalai Lama dan seorang psikiater dari Amerika Serikat, Beliau menjelaskan apa itu kebahagaian. Faktor-faktor apa yang menyebabkan kita hidup bahagia?

    Salah satu resepnya adalah menerima diri apa adanya. Menerima kekurangan dan kelebihan yang kita miliki. Menerima juga orang lain apa adanya. Ubahlah diri sendiri sebelum mengubah orang lain.

    Kedua buku itu betul-betul mengubah hidup saya. Saya selalu bercermin ke diri sendiri sebelum berpikir negatif tentang orang lain.

    Apakah saya betul-betul orang yang baik, sehingga saya berhak marah atau berkata jelek tentang orang lain? Apakah saya tidak pernah melakukan suatu kesalahan sehingga saya berhak menuding orang lain berbuat salah?

    Pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu saya tanyakan pada diri sendiri. Dengan demikian, muncullah rasa empati. Menghargai orang lain apa adanya.

  5. RUDI HERMANTO Says:
    June 9th, 2008 at 2:03 am

    inspirasi muncul ketika dealektika ini selalu dimasifkan, saya cukup senang sekali rasanya membaca berbagai pandangan yang cukup mendalam dari pengalaman hidup yang telah dialami ini. hari-hari ini saya sangat berbahagia karena saya akan menjadi bapak untuk kelahiran anak pertamaku,tidak bisa diucapkan dengan kata-kata,sungguh luar biasa bahagiannya….namun muncul dibenak pikiranku, dengan berbagai problematika yang muncul tersebut, seputar masalah mendidik anak, pertanyaannya apakah saya juga mampu untuk mendidik anak dengan baik dan sabar???doa saya semoga Allah SWT, gusti yang maha suci, memberiku hati yang senantiasa suci, tulus, sabar untuk mendidik anak-anakku kelak……aminnnnn

  6. Jana Says:
    June 14th, 2008 at 4:15 am

    Kata-kata yang sangat puitis dan mengandung makna yang sangat dalam. Jika saja banyak orang seperti Pak Rudi, wah pasti dunia kita ini akan sangat indah dan damai. :-)

    Rasa ragu apakah akan bisa mendidik anak dnegan baik nantinya, haruslah membawa kita kepada hal-hal positif. Coba Pak Rudi renungkan dan jawablah pertanyaan berikut ini.

    Apakah Pak Rudi mempersiapkan diri untuk belajar lebih banyak tentang dunia anak?

    Dengan cara bagaimana Pak Rudi belajar? Membaca buku, ikut seminar, nonton acara TV tentang dunia anak, langganan majalah? Langganan Cinta Balita Newsletter?!

    Jika jawaban di atas YA, apakah Pak Rudi membagi pengetahuan itu kepada istri?

    Apa alasannya? Apakah karena istrilah yang akan lebih banyak bersama anak?

    Apakah Pak Rudi bersedia untuk menjadi teladan bagi anak?

    Bagaimana caranya? Apakah bersedia mengubah prilaku yang menurut Bapak negatif lalu diganti dengan yang positif?

    Hanya Pak Rudi seorang yang bisa menjawabnya. Saya hanya memandu saja lho!

    “Yang benar-benar penting adalah apa yang terjadi di dalam diri kita.” ~ John C. Maxwell

    salam,
    Jana

  7. moel Says:
    July 17th, 2008 at 2:25 am

    Saya guru TPA,dan mengajar dikelas Alif. Saya kesulitan sekali memberikan materi dan arahan pada anak didik saya usia 2 tahun. Sebaiknya metode apa yang terbaik digunakan setiap kali saya berhadapan dengan mereka agar mereka tetap asyik belajar sambil bermain

  8. Jana Says:
    July 23rd, 2008 at 2:17 am

    Halo Moel …. :-)

    Sori ya telat balasnya? Gak Apa kan? Banyak kegiatan nih saya bulan ini ….

    Anak-anak usia 2 tahun tuch lagi banyak gerak ya. Gak bisa diem. Salah satu solusinya Moel bisa coba dengan memberikan mereka kegiatan bergerak 5 menit, misalnya permainan “Lihat Tanganku”. Permainan ini memacu kemampuan mengamati.

    • Diskusikan beberapa gerakan yang dapat dilakukan tangan kita.
    • Kita bisa bertepuk, mengkertakkan jari, melambai, bersalaman, dan mengepal.
    • Mintalah anak-anak untuk memperhatikan dan meniru gerakan tangan kita.
    • Bertepuklah beberapa kali dan gantilah dengan gerakan tangan lainnya.
    • Lakukan permainan yang sama dengan gerakan kaki dan mulut.
    • Setelah mereka menguasai permainan, biarkan salah satu anak menjadi pemimpin.

    Nah, gampang kan? Cukup 5 menit saja. Yang penting Moel ngajarnya yang SABAR ya. Mesti penuh welas asih. :-)

    Berikutnya, Moel bisa coba permainan lainnya yang berlawanan, yaitu mengajarkan relaksasi. Nama permainannya “Waktu Bersantai”.

    • Ajarkan anak-anak cara relaksasi yang dapat dilakukan seumur hidup.
    • Berbaringlah di lantai.
    • Keraskan dan kemudian lemaskan anggota tubuh yang berlainan.
    • Mulailah dengan jari kaki dan secara bertahap ke anggota tubuh bagian atas hingga kepala.
    • Pastikanlah untuk tidak melupakan semua otot di wajah, termasuk bagian di sekitar mata, leher, dan mulut.
    • Setelah selesai, ajaklah anak-anak bangun perlahan-lahan dan berjalan ke pintu.
    • Cobalah lakukan permainan ini bersama-sama mereka, dan tak usah heran bila tubuh terasa enak. :-)

    Ayo, Moel. Bareng ama anak-anak lakukan permainan di atas ya. Saya kasih 2 jenis yang beda. Pasti asik tuh …

  9. Rina Says:
    August 16th, 2008 at 2:17 am

    Putri kami berusia 2 tahun 2 bulan, anaknya aktif banget. Yang jadi masalah; dia senang memukul dan melempar kakak pengasuhnya, juga suka melakukan perbuatan yang sudah kita larang; sehingga kadang-kadang kita jadi suka lepas kontrol dan melampiaskan amarah kita dengan memukul tangan (kalau melemparin), mencubit dan membentak.
    Bagaimana seharusnya kami mendidik putri kami ini agar tidak mengikutsertakan emosi kalau dia mulai nakal.
    Please help us….!

  10. Jana Says:
    August 16th, 2008 at 8:52 am

    Dear Mbak Rina,

    Mendidik anak dengan kekerasan akan menimbulkan si anak juga akan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Sebagai orang tua, saya sangat mengerti bahwa dibutuhkan berjuta-juta kesabaran.

    Menerapkan prilaku yang baik memerlukan cara yang efektif agar anak dapat memahaminya. Bukan dengan ikut memukul, dsb.

    Program belajar A Child’s First Library of Values berisi cerita-cerita sederhana bagaimana seharusnya anak berprilaku yang baik. Banyak sekali manfaatnya, antara lain :

    • mengajarkan kepada anak untuk menghargai hasil karya orang lain dengan hasil kerja keras
    • mengajarkan kepada anak untuk meminta maaf bila perbuatan dan perkataannya mengganggu orang lain
    • mengajarkan anak untuk menerima dan menghargai diri sendiri
    • mengajarkan anak untuk berterimakasih
    • mengajarkan anak untuk berbagi kepada sesamanya yang bisa membahagiakan orang lain
    • mengajarkan anak untuk mendengar dan menghargai orang lain
    • mengajarkan anak untuk tidak egois dan dapat bekerjasama dengan orang lain
    • mengajar anak untuk bekerja keras dengan tulus
    • mengajar anak pentingnya nilai-nilai bersahabat
    • mengajarkan anak untuk disiplin tepat waktu

    Dengan memangku anak dan membacakan cerita itu untuknya dengan penuh kasih sayang, anak akan lebih memahami bahwa perbuatannya tidak baik. Dia akan berprilaku baik tanpa harus dimarahi.

    Bukankah ini cara yang lebih menyenangkan, Mbak? Daripada menggenjot emosi buruk dan sesudah itu baru menyesal, kenapa anak dimarahi?

    Selain mengajarkan anak banyak manfaat di atas, Mbak juga mendapat manfaat yang sama. Jadi belajar lebih sabar dan berempati pada anak.

  11. widia Says:
    November 6th, 2008 at 7:43 am

    Ada temenku yang bilang mulai umur 2 thn, anak harus diajar displin. Krn jika tidak, si anak akan ngelunjak. Menurut pengalaman saya, berdisplin tnp nada yang tegas tidak akan ditanggapi oleh anak. Si anak malah mengganggapnya biasa saja. Tapi jika nadanya tegas (spt membentak) baru si anak mau menurut.
    Saya tidak pernah pakai kekerasan fisik spt memukul atau mencubit, hanya nada suara saja meninggi. Kalo si anak tetap tidak menurut, saya akan mengambil mainan atau apa saya yang dia senangi saat itu, dan mulai berkata…kalo tidak (misalnya minum susu), mainan ini mama ambil. Salahkan seperti itu? selama ini sih efektif dgn cara itu, si anak mau nurut.
    Saya bingung nich gimana cara yang tepat krn takutnya hkalo kita sabar menghadapi kebandelan anak, akankal si anak ngelunjak nantinya?

  12. Jana Says:
    November 22nd, 2008 at 4:38 am

    Betul sekali Mbak Widia. Anak harus diajar disiplin sejak balita. Bukan hanya mulai usia 2 tahun ya.

    Menerapkan displin dengan komunikasi efekfif akan sangat membantu. Ada beberapa teknik dasar untuk berbicara pada anak.

    • Turunkan tubuh Mbak setinggi tubuh anak. Duduk atau berlutut, pilih yang nyaman buat Mbak.
    • Tatap mata anak. Hal ini sangat penting. Jika perlu, palingkan wajah anak dengan lembut dengan tangan Mbak agar dia menatap langsung ke mata Mbak.
    • Jika anak dalam keadaan kesal / marah, usaplah punggung atau perutnya.
    • Berkatalah dengan suara yang tegas tapi lembut. Suara yang serius adalah suara yang tidak tinggi.
    • Beri kata-kata pada anak untuk mengalirnya percakapan. Contohnya untuk anak yang masih kecil, katakan, “Coba ikuti Ibu” dan doronglah mereka untuk mencoba. Untuk anak-anak yang lebih besar, Mbak bisa berkata sesuatu yang terlihat jelas, “Kamu kelihatannya kesal” atau “Coba kasih tahu Ibu / Ayah apa yang membuatmu kesal?” atau “Kamu tidak mau minum susu karena apa?”
    • Ulangi apa yang dikatakan oleh anak. Ini menunjukkan kalau Mbak benar-benar mendengarkan.
    • Jangan menyela. Biarkan anak mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. Katakan kalau Mbak mengerti. Dan jika giliran Mbak tiba, anak akan berhenti bicara dan anak akan mendengarkan.
    • Tetap tenang, betapa pun bergejolaknya hati Mbak.

    Jadi, Mbak, yang diperlukan di sini adalah komunikasi yang efektif. Kata-kata ancaman biasanya hanya temporer saja. Untuk lebih membuat anak mengerti kenapa sesuatu itu tidak boleh dilakukan, lebih baik dengan cara di atas. Ajaklah anak berkomunikasi dari hati ke hati.

    Kebiasaan ini sangat bermanfaat sampai anak dewasa. Dengan kedekatan emosi antara orang tua dan anak, maka apa pun yang menjadi keresahan hatinya, anak akan mencari Mbak untuk sharing.

Comments

Mau Bertanya? Boleh..

Kirimkan pertanyaan anda seputar blog ini dengan form ini.
Nama :
Email :
Kategori :
Judul :
Pertanyaan :
Kode Unik :